Selasa, 25 Oktober 2016

Hati, Sepi, dan Doa

aku adalah aku, bukan kamu, dia, atau siapapun..
hening bagai temanku disetiap waktu..
terkadang menyejukkan hati yang pilu..
tak jarang pula membuat hati makin terasa sepi juga kaku..

bagiku.. malam adalah saat yang indah, saat dimana aku dan sepi ku mampu melayang bebas menapaki langit dalam butiran doa ku pada-Nya..
tak apa sepi ku selalu hadir, asal hening malam tak pernah hilang dalam masa nya..
tak apa bila ku sendiri.. asal Tuhan selalu hadir dan akan tetap terus hadir..

Aku pernah terjatuh, oleh hal yang disebut cinta..
padahal setia ku bukan sembarang, dan rasa ku bukan lebel abal-abal
dan aku yakin, cintaku bukanlah hal yang salah..
namun saat masa itu datang mencabik hati hingga bagian terdalam,
aku sadar bahwa penempatan ku yang salah..

Aku mencintai seseorang dengan cara yang tidak disukai Tuhanku..
sebab itu mungkin Ia marah, sebab itu lah waktu yang ku fikir takkan pernah datang, justru dengan sigap mencabik hati ku dalam waktu yang amat singkat, namun membekas mungkin hinga akhir hayat..

Aku beruntung, hidup dalam masa dimana ada surat penghantar yang disebut "DOA"
sebagai media penyampaian pesan seorang hamba pada Tuhannya, pula sebagai media permintaan yang amat sederhana namun terselip berbagai macam makna..

Setelah kecewa itu menetap begitu lama, akhirnya aku sadar bahwa cinta sejati hanyalah ada pada Rabb ku, dia yang maha memberi cinta, tanpa-Nya tak mungkin kita bisa berkata "CINTA" tanpa-Nya tak mungkin aku terlahir ke dunia.